Fakta menarik latte ternyata jauh lebih kaya dari sekadar secangkir kopi susu biasa. Minuman yang tampak sederhana ini menyimpan perjalanan sejarah panjang, ilmu pengetahuan di balik racikannya, serta tradisi budaya yang menarik untuk diulik.
Hampir setiap kedai kopi di dunia mencantumkan latte dalam daftar menu mereka. Bahkan bagi orang yang tidak terlalu menyukai kopi, latte sering kali menjadi pilihan pertama karena rasanya yang lembut dan creamy.
Akan tetapi, seberapa banyak yang benar-benar kamu ketahui tentang minuman ini? Berikut tujuh fakta menarik tentang latte yang mungkin belum pernah kamu dengar sebelumnya.
1. Latte Lahir dari Keluhan Turis Amerika di Italia
Latte lahir dari keluhan turis Amerika yang berkunjung ke Italia dan merasa tidak cocok dengan kepahitan kopi lokal. Pada abad ke-17, masyarakat Italia sudah terbiasa mencampur kopi dengan susu sebagai bagian dari sarapan pagi mereka.
Namun demikian, versi asli kopi susu Italia sangat berbeda dengan latte yang kita kenal sekarang. Orang Italia hanya menuangkan susu panas tanpa busa ke dalam espresso dan meminumnya di rumah, bukan di kafe.
Ketika turis Amerika berdatangan ke Italia, mereka mengeluhkan rasa espresso yang terlalu kuat dan pahit. Para barista kemudian menambahkan lebih banyak susu untuk meringankan rasa kopi tersebut.
Dari sinilah konsep latte modern mulai terbentuk. Takaran susu yang lebih banyak ini kemudian menjadi standar dan melahirkan menu baru yang lebih ramah bagi lidah internasional.
Secara khusus, seorang barista Italia bernama Lino Meiorin memainkan peran penting dalam mempopulerkan latte. Pada akhir 1950-an, ia melihat banyak pengunjung kafenya di California yang meminta tambahan susu pada cappuccino mereka. Akhirnya, ia menciptakan menu khusus dengan porsi susu lebih banyak dan menuliskan “Caffè Latte” di papan menunya.
2. Memesan “Latte” di Italia Justru Mendapat Segelas Susu
Memesan “latte” di Italia justru menghasilkan situasi yang cukup menggelikan. Dalam bahasa Italia, kata “latte” secara harfiah berarti “susu” tanpa embel-embel apa pun. Jadi jika kamu masuk ke kafe di Roma atau Milan dan hanya mengatakan “latte,” barista akan menyodorkan segelas susu polos kepadamu.
Untuk mendapatkan kopi susu yang kamu inginkan, kamu harus menyebutkan nama lengkapnya, yaitu “caffè latte” yang artinya “kopi susu.” Istilah lengkap ini membedakan antara susu biasa dan minuman kopi yang dicampur susu.
Perbedaan penggunaan istilah ini sering menjadi sumber anekdot lucu bagi wisatawan asing yang pertama kali mengunjungi Italia. Banyak yang terkejut ketika menerima segelas susu hangat, padahal mereka mengharapkan secangkir kopi.
Menariknya, istilah “caffè latte” pertama kali muncul dalam literatur berbahasa Inggris melalui tulisan penulis esai William Dean Howells. Dalam karyanya bertajuk “Italian Journeys” pada 1867, ia mendeskripsikan minuman ini dan membawa istilah tersebut ke hadapan publik internasional.
Di luar Italia, kata “latte” saja sudah cukup dipahami sebagai kopi susu. Namun, mengetahui arti aslinya tentu menambah wawasan dan bisa menghindarkan kamu dari momen canggung saat berkunjung ke negeri pizza tersebut.
3. Latte Pernah Disajikan dalam Mangkuk dan Gelas Bir
Latte pernah disajikan dalam wadah yang sangat tidak biasa sebelum akhirnya menggunakan cangkir dan gelas seperti sekarang. Pada masa awalnya, orang Italia menyajikan campuran kopi dan susu dalam mangkuk sebagai bagian dari ritual sarapan pagi.
Tradisi minum kopi susu dari mangkuk ini sebenarnya cukup umum di beberapa negara Eropa. Prancis misalnya, juga memiliki kebiasaan serupa dengan “café au lait” yang disajikan dalam mangkuk besar.
Ketika latte mulai berpindah dari rumah ke kafe, wadah penyajiannya pun berevolusi. Lino Meiorin, barista Italia yang membawa latte ke Amerika, awalnya menyajikan minuman ini menggunakan gelas bir sebelum akhirnya beralih ke cangkir keramik.
Bayangkan menikmati kopi latte dari gelas bir berukuran besar! Meskipun terdengar aneh, pilihan wadah ini masuk akal mengingat porsi latte yang memang lebih banyak dibandingkan espresso atau cappuccino biasa.
Saat ini, latte umumnya disajikan dalam gelas tinggi berukuran sekitar 230 mililiter atau 8 ons. Beberapa kedai kopi premium bahkan menggunakan gelas transparan khusus agar pelanggan bisa melihat gradasi warna antara espresso dan susu yang menciptakan pemandangan visual yang memukau.
4. Komposisi Latte Mengikuti Rasio 1:3 yang Presisi
Komposisi latte mengikuti rasio 1:3 yang sangat presisi antara espresso dan susu. Satu porsi latte standar terdiri dari satu atau dua shot espresso (sekitar 60 mililiter) yang dicampur dengan susu steam sekitar 180 mililiter, ditutup lapisan busa susu tipis sekitar 1 sentimeter.
Rasio inilah yang membedakan latte dari minuman kopi susu lainnya. Cappuccino misalnya, menggunakan porsi espresso, susu steam, dan busa susu yang relatif seimbang dalam perbandingan 1:1:1. Hasilnya, cappuccino memiliki rasa kopi yang lebih kuat.
Sementara itu, flat white menggunakan susu microfoam yang lebih halus dengan rasio espresso lebih tinggi dibandingkan latte. Macchiato di sisi lain hanya menambahkan sedikit susu ke dalam espresso.
Proses steam susu untuk latte memerlukan teknik khusus yang tidak bisa dilakukan sembarangan. Barista harus memanaskan susu menggunakan uap panas dari mesin espresso hingga menghasilkan tekstur lembut dan creamy tanpa gelembung besar.
Suhu ideal untuk steam susu latte berkisar antara 60 hingga 70 derajat Celsius. Jika terlalu panas, susu akan kehilangan rasa manisnya dan menghasilkan tekstur yang kurang menyenangkan. Ketelitian dalam setiap langkah inilah yang membuat latte di kedai kopi profesional terasa berbeda dari buatan rumahan.
5. Latte Art Baru Muncul di Era 1980-an
Latte art baru muncul di era 1980-an meskipun minuman latte sendiri sudah ada sejak berabad-abad sebelumnya. David Schomer, seorang barista dari Seattle, Amerika Serikat, menjadi pelopor seni melukis di atas permukaan latte.
Pada awalnya, latte disajikan dengan sederhana tanpa hiasan apa pun di permukaannya. Namun, Schomer bereksperimen dengan teknik menuang susu steam dan menemukan bahwa gerakan tertentu bisa menghasilkan pola-pola indah di atas kopi.
Sejak saat itu, latte art berkembang menjadi bentuk seni tersendiri dalam dunia perkopian. Pola klasik seperti hati, daun rosetta, dan tulip menjadi standar yang harus dikuasai setiap barista profesional.
Kini, latte art bahkan menjadi kompetisi bergengsi di tingkat internasional. Para barista dari seluruh dunia berlomba menciptakan desain yang semakin rumit dan memukau, mulai dari potret wajah hingga pemandangan alam.
Teknologi juga turut mengikuti tren ini. Saat ini sudah tersedia mesin pembuat latte art otomatis yang mampu mencetak berbagai gambar di atas permukaan kopi. Meskipun begitu, para puritan kopi tetap menganggap latte art buatan tangan barista memiliki nilai seni yang jauh lebih tinggi.
Di Indonesia sendiri, latte art mulai populer di kalangan anak muda sekitar tahun 2016 hingga 2017. Tren ini mendorong banyak orang untuk mempelajari teknik barista dan membuka kedai kopi kecil-kecilan.
6. Kandungan Nutrisi Latte Lebih Kompleks dari Perkiraan
Kandungan nutrisi latte ternyata lebih kompleks dari sekadar campuran kopi dan susu. Satu porsi latte berukuran 12 ons dengan susu whole milk mengandung sekitar 150 hingga 190 kalori, 9 gram protein, serta berbagai vitamin dan mineral penting.
Susu dalam latte menyumbangkan kalsium sekitar 170 miligram per sajian yang sangat bermanfaat untuk kesehatan tulang. Selain itu, latte juga mengandung vitamin B2 (riboflavin) dan vitamin B12 yang berperan penting dalam produksi sel darah merah dan kesehatan saraf.
Dari sisi kafein, satu porsi latte berukuran 16 ons mengandung sekitar 150 miligram kafein dari dua shot espresso. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan kopi hitam biasa karena rasio susu yang lebih tinggi memberikan efek pengenceran.
Menariknya, banyak mitos yang menyebutkan bahwa susu dalam latte membatalkan manfaat antioksidan dari kopi. Namun, penelitian menunjukkan bahwa susu tidak mengurangi penyerapan antioksidan dari espresso. Tubuh kamu tetap mendapatkan manfaat dari kedua komponen tersebut secara bersamaan.
Bagi yang memperhatikan asupan kalori, pilihan jenis susu sangat menentukan. Latte dengan susu skim hanya mengandung sekitar 130 kalori, sedangkan latte dengan susu almond bisa turun hingga 60 kalori saja. Menghindari sirup perasa juga bisa menghemat 80 hingga 150 kalori per sajian.
7. Amerika Serikat Merayakan Hari Latte Nasional
Amerika Serikat merayakan Hari Latte Nasional setiap tanggal 7 Oktober sebagai bentuk apresiasi terhadap minuman yang sudah menjadi bagian dari budaya keseharian mereka. Fakta ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh latte dalam kehidupan masyarakat Amerika.
Latte mencapai puncak popularitasnya di Amerika Serikat pada dekade 1980-an, khususnya di kota Seattle. Kota ini bahkan mendapat julukan sebagai “kota kopi dunia” karena konsumsi kopi yang sangat tinggi dan hadirnya berbagai jaringan kedai kopi besar.
Setiap harinya, jutaan cangkir latte terjual di berbagai kedai kopi di seluruh negeri Paman Sam. Pesanan latte bahkan melebihi pesanan espresso murni di mayoritas kedai kopi, membuktikan bahwa masyarakat Amerika memang lebih menyukai rasa kopi yang lebih lembut.
Budaya latte ini kemudian menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Di tanah air, latte dengan cepat menemukan tempatnya karena kesamaan konsep dengan kopi susu lokal yang sudah lama dikenal masyarakat.
Selain itu, tren iced latte atau latte dingin juga sangat populer di negara-negara tropis seperti Indonesia. Kesegaran es yang berpadu dengan rasa creamy susu dan sentuhan kopi membuat iced latte menjadi menu andalan di hampir setiap kedai kopi modern.
Latte Terus Berevolusi di Era Modern
Latte terus berevolusi mengikuti perkembangan zaman dan selera konsumen yang semakin beragam. Dari sekadar campuran espresso dan susu panas, kini latte hadir dalam berbagai varian yang tidak terbayangkan oleh penciptanya dahulu.
Spanish latte menambahkan susu kental manis untuk rasa yang lebih manis dan kaya. Matcha latte menggantikan espresso dengan bubuk teh hijau Jepang. Taro latte menghadirkan warna ungu cantik dengan rasa ubi yang unik.
Penggunaan susu nabati juga mengubah lanskap latte secara signifikan. Susu oat, susu almond, susu kedelai, dan susu kelapa kini menjadi alternatif populer bagi mereka yang intoleran laktosa atau menjalani pola makan vegan.
Teknologi pembuatan latte pun semakin canggih. Mesin espresso modern mampu menghasilkan tekanan dan suhu yang sangat presisi, sementara alat frother portable memungkinkan siapa saja membuat latte berkualitas di rumah.
Di balik kesederhanaannya, secangkir latte menyimpan cerita perjalanan lintas benua, inovasi teknik barista, seni visual yang memukau, dan ilmu nutrisi yang kompleks. Setiap tegukan yang kamu nikmati membawa warisan budaya ratusan tahun yang terus berkembang hingga hari ini.


Sarapan seringkali menjadi waktu makan yang terabaikan karena padatnya rutinitas pagi. Namun, kita semua sepatah bahwa melewatkannya bukanlah pilihan bijak. Oleh karena itu, kita membutuhkan solusi cerdas yang menggabungkan kelezatan, kepraktisan, dan nutrisi. Nah, inilah saatnya kita berkenalan dengan resep heroik pagi hari: Roti Tawar Goreng Telur. Sajian ini bukan hanya sekadar menggugah selera, tetapi juga memberikan energi optimal untuk memulai aktivitas.

